Jumat, 09 Maret 2012

Organisasi Mahasiswa: Problematika di Tengah Peta Strategis

Manusia adalah makhluk sosial begitu kira-kira kata Plato, filosof pencetus teori “zoon Politicon”. Sejak lahir manusia memang terus menerus belajar berorganisasi hingga akhir hayatnya. Sejak membentuk komunitas bermain dalam skala kecil hingga membentuk organisasi besar kala dia dewasa. Semua itu berawal dari kebutuhan dasar manusia untuk berinteraksi satu dengan lainnya.

Ketidak mampuan manusia untuk memenuhi kebutuhan dirinya sendiri menjadi alasan besar kenapa manusia butuh berinteraksi satu dengan lainnya. Sebenarnya Allah Swt punya tujuan khusus dengan menciptakan manusia tidak mampu memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri. Allah Swt ingin manusia menjalin hubungan, bekerjasama, membentuk komunitas dan akhirnya bisa saling mengasihi dan menyayangi. Hal ini tidak lain adalah demi menciptakan ekosistem kehidupan yang seimbang.

Organisasi jika dikaji lebih jauh sebenarnya adalah peradaban tua dalam sejarah manusia. Sejak zaman pra-sejarah manusia sudah mengenal organisasi walaupun belum teratur dan terformat secara baik, namun dari artefak-artefak yang ditemukan banyak arkeolog yang menyimpulkan bahwa manusia pra sejarah sudah mengenal organisasi seperti adanya kepala suku dan segala perangkatnya. Mungkin ini sedikit bukti bahwa organisasi sangatlah dekat kehidupan manusia dan mustahil untuk dipisahkan
.
Dalam perkembangan selanjutnya, pada masa saat manusia sudah mengenal tulisan dan jumlah populasi manusia sudah cukup banyak, manusia sudah mulai mengenal bentuk pemerintahan seperti kerajaan hingga sistem demokrasi yang dikenalkan masyarakat Yunani. Organisasi pun semakin kompleks dan mendapat definisi dan batasan-batasan yang lebih dalam dan spesifik. Namun begitu, apapun bentuknya -apakah itu sebuah kelompok kecil dalam masyarakat hingga sebentuk negara yang sangat rumit susunannya- organisasi tetap menjadi perangkat utama manusia membentuk peradaban.

Menengok ke salah satu peradaban tua dunia, timur tengah misalnya, mereka pun terbukti sangat dekat dengan keorganisasian. Saat itu klan dalam masyarakat arab adalah patokan membentuk sebuah kelompok masyarakat. Klan inilah yang memunculkan kabilah-kabilah atau suku-suku dalam masyarakat mereka. Bahkan sistem klan ini mampu memberi batasan langsung dalam menentukan jabatan setiap kabilah dalam penjagaan Ka’bah. Seperti garis keturunan dalam bani Hasyim (klan Rasulullah Saw) mempunyai tugas dalam memberi air minum kepada para peziarah Ka’bah.

Karena organisasi berawal dari motif kesamaan klan, pandangan hidup, tujuan, dan status social, maka tidak heran organisasi memicu banyak kejadian hebat dalam sejarah manusia seperti perseteruan, konflik, bahkan peperangan. Namun begitu, organisasi -entah itu besar atau kecil- juga terbukti mampu memberi ‘obat’ bagi semua masalah ini. Karena bagaimanapun, organisasi sebenarnya adalah jembatan bagi satu komunitas dengan komunitas lainnya, bukan untuk memecah dan menghancurkan.

Berbicara soal motif terbetuknya organisasi memang sangatlah menarik. Setiap tindak-tanduk manusia tidaklah lepas dari sebab dan akibat. Begitupun dengan terbentuknya organisasi juga berawal dari banyak motif dan faktor. Seperti bangsa Arab memakai sistem klan untuk membatasi terbentuknya kabilah, dan kelompok-kelompok lain. Ideologi juga menjadi kekuatan besar yang mempengaruhi terbentuknya sebuah organisasi. Sekelompok manusia yang mempunyai ideologi sama cenderung untuk membentuk sebuah kelompok tersendiri. Dan organisasi yang dibangun atas dasar kesamaan ideologi cenderung mempunyai ikatan yang lebih kuat dari organisasi yang tidak dibangun bukan atas dasar ideologi.

Selain klan dan ideologi, kesamaan nasib juga –kadang- mendorong sekelompok manusia untuk membangun organisasi. Perserikatan buruh misalnya, organisasi yang ada hampir di seluruh dunia ini adalah aplikasi dari kesenjangan sosial yang ditimbulkan oleh orang-orang borjuis yang mengeksploitasi buruh dan memperlakukan buruh tak ubahnya seperti budak. Dari sinilah mereka -kaum buruh- merasa satu nasib dalam kehidupannya. Dan pada akhirnya mereka membentuk berbagai macam perserikatan yang menampung aspirasi buruh dan tentunya memberikan bukti bahwa para kaum proletar ini punya kekuatan dengan mereka bersatu dalam satu wadah.

Dalam ranah akademis, organisasi juga sudah sangatlah akrab kita jumpai. Mulai dari OSIS di tingkat SMP dan SMA hingga Senat di tingkat perguruan tinggi adalah bentuk organisasi pembelajaran yang lebih mengutamakan tercapainya tujuan studi. Namun terkadang organisasi pembelajaran ini justru malah menyelewengkan tujuan para siswa dan mahasiswa. Organisasi yang dibentuk para pelajar ini banyak yang membuat mereka lupa pada tujuan awalnya yaitu belajar. Namun begitu, kita tidak boleh menafikan adanya banyak manfaat dari organisasi di lingkungan akademis.

Kompleksitas lingkungan akademis adalah lahan subur untuk menggodok para cikal bakal organisator. Namun tentunya harus diingat para siswa dan mahasiswa mempunyai tugas pokok yang tidak boleh diselewengkan. Jadi organisasi hanya berperan sebagai pendukung kegiatan belajar para siswa dan mahasiswa. Jadi sangat sayang jika para siswa atau mahasiswa melupakan tujuan utamanya hanya demi menjalani aktifitas organisasi.

Organisasi ideal dalam dunia akademis adalah jika organisasi itu mampu menunjang prestasi akademik, mendorong dan mewadahi kreatifitas siswa atau mahasiswa. Selain itu organisasi di ranah akademis haruslah steril dari aktifitas politik praktis. Politik pada dasarnya bersifat dinamis dan akan bersifat merusak jika dimasukan ke ranah akademis. Karena bagaimanapun lingkungan pendidikan adalah tempat untuk mentransfer ilmu pengetahuan yang sangatlah bersifat obyektif. Dan dikhawatirkan keobyektifan ilmu pengetahuan akan berubah seiring kepentingan politik yang ada.

Membaca keadaan strategis organisasi kita akan dihadapkan pada banyak problematika, obesitas organisasi menjadi salah satu problematika itu. Gemuk dan tidak banyak memberi manfaat itulah masalah dari banyak organisasi di dunia ini. Mungkin karena pembentukan awal organisasi-organisasi itu tidak berdasarkan pada tujuan yang ingin dicapai namun lebih karena persamaan paradigma saja.

Problematika ini juga ternyata terjangkit di masyarakat kita, bahkan lebih parah. Bukankah sama-sama kita ketahui bahwa banyak organisasi yang justru sengaja digemukkan untuk mencari peluang mendapatkan materi dan kekuasaan tanpa memikirkan manfaat dan mudharatnya. Betapa banyak organisasi yang lahir kemudian ditelantarkan. Tentu hal ini sama-sama tidak kita inginkan. Bisa jadi memang masyarakat kita masih belum dewasa dalam berorganisasi. Atau sudah dewasa namun acuh tak acuh terhadap masalah ini.

Sekedar sebagai contoh kecil fenomena obesitas yang terjadi di masyarakat Indonesia (khususnya di kalangan organisasi mahasiswa Indonesia), munculnya pelbagai organisasi kecil ketika adanya suatu kasus yang berskala nasional mencuat. Seperti munculnya MAKI (Mahasiswa Anti Korupsi Indonesia), yang muncul ketika kasus skandal Bank Century mencuat ke publik. Tetapi, setelah kasus skandal ini mulai tenggelam ditelan kasus-kasus baru yang muncul belakangan, tenggelam pula suara organisasi MAKI.

Sungguh sangat disayangkan ketika organisasi yang sebenarnya memiliki misi yang bagus, tetapi hanya bersifat temporal dan insidentil. Sudah barang tentu, dampak yang tercipta adalah, kurang produktifnya organisasi yang ada, baik produktifitas organisasi itu sendiri melalui kegiatan-kegiatan yang mengena pada masyarakat, maupun produktifitas aktifis organisasi yang semakin menurun dikarenakan banyaknya organisasi yang ada.

Ketika kita tarik garis problematika obesitas organisasi ini pada ranah Masisir, tentunya, Masisir yang sudah masyhur dengan dinamika organisasinya, obesitas organisasi adalah problematika yang tidak bisa dielakkan di ranah kehidupan dinamika Masisir. Terlebih dengan kondisi besarnya massa yang ada di kalangan Masisir yang berasal dari pelbagai latar belakang. Memang, Masisir semakin berdinamika dengan muculnya pelbagai macam organisasi. Tetapi di balik itu semua, dampak negatif yang benar dirasakan selain produktifitas organisasi yang berkurang, juga sering berimbas pada sisi psikologis organisator yang berkecimpung di dalamnya. Karena tidak dapat dipungkiri, satu hal yang digarisbawahi dari kehidupan Masisir adalah sisi akademis.

Selain masalah obesitas organisasi, salah satu dampak keadaan strategis organisasi adalah, timbulnya upaya politisasi organisasi. Dalam artian, banyak pihak yang memanfaatkan organisasi untuk kepentingan-kepentingan politik praktis. Karena sebuah organisasi pastinya memiliki jumlah massa yang signifikan dan prospektif untuk digiring pada suatu kepentingan politik tertentu.

Meskipun ketika kita melihat dengan kacamata sejarah, saat masa awal munculnya pelbagai organisasi mahasiswa yang ada di Indonesia. Terbentuknya organisasi-organisasi mahasiswa juga sangat erat kaitannya dengan permasalahan politik. GMNI (Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia) contohnya, yang terbentuk pada 22 Maret 1954, organisasi mahasiswa yang terbentuk dari peleburan 3 organisasi mahasiswa pada saat itu (Gerakan Mahasiswa Marhenis, Gerakan Mahasiswa Merdeka, dan Gerakan Mahasiswa Demokrat Indonesia). Begitu juga dengan PMII (Persatuan Mahasiswa Islam Indonesia), meskipun organisasi ini berangkat dari kalangan pelajar salah satu ormas terbesar di Indonesia, tetapi yang melatarbelakangi terbentuknya organisasi yang terbentuk pada 17 April 1960 ini adalah, kondisi politik Indonesia pada era 60-an yang mengharuskan mahasiswa untuk turut andil dalam dunia perpolitikan Indonesia.

Tetapi hendaknya itu semua tidak menjadi alasan untuk mempolitisasi organisasi mahasiswa pada masa sekarang ini, karena pada era awal munculnya organisasi-organisasi mahasiswa, sebagai negara yang baru saja lahir, tentunya mengharuskan campur tangan dari banyak pihak, terlebih dari kalangan terpelajar seperti mahasiswa, guna menuju satu tatanan pemerintahan yang baik. Berbeda dengan kondisi politik saat ini, kiranya sudah bukan barang pantas, jika organisasi-organisasi mahasiswa yang berorientasi untuk menunjang pendidikan formal, tetapi kini mulai menyimpang pada kepentingan-kepentingan politik praktis, melalui oknum-oknum yang perlahan menyusup ke tubuh organisasi mahasiswa. Terlebih organisasi mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan di luar negeri, seperti di kalangan Masisir, seharusnya upaya-upaya ini bisa dinetralisir, mengingat keberadaan organisasi mahasiswa ini adalah untuk mempersatukan duta-duta bangsa yang sedang menempuh pendidikan di luar negeri meskipun dari pelbagai latar belakang. Tetapi dampak ketika upaya-upaya politisasi organisasi mahasiswa ini muncul, maka anggota organisasi (dalam hal ini mahasiswa Indonesia di luar negeri), akan semakin terkotak-kotakkan oleh kepentingan-kepentingan politik praktis, parpol peserta Pemilu contohnya.

Hal senada juga diungkapkan oleh Bapak Shidqon Maesur, MA. mantan aktifis organisasi Masisir di era tahun 90-an yang sempat menjabat menjadi ketua KSW V, pada tahun 1991. Di sela-sela kesibukan beliau melakukan penelitian untuk disertasi beliau, kepada kru Buletin Prestasi beliau menyayangkan adanya usaha-usaha untuk mempolitisasi organisasi mahasiswa, terlebih di ranah Masisir. Beliau mengungkapkan, seharusnya organisasi mahasiswa haruslah bisa berkhidmat secara penuh untuk menunjang pendidikan formal yang tengah di tempuh, dan jangan sampai disalahgunakan untuk kepentingan-kepentingan sepihak, seperti kepentingan politik praktis. Karena hal ini justru akan semakin menambah sekat yang telah ada di kalangan Masisir, serta bisa menarik rivalitas politik menjadi rivalitas sosial yang ada di ranah kehidupan Masisir.

Dua problematika yang cukup pelik ini hendaknya juga turut manjadi sebuah pembelajaran penting dalam kehidupan berorganisasi. Mengingat organisasi adalah ajang pembelajaran kehidupan. Idealitas organisasi mahasiswa, terlebih di kalangan Masisir, haruslah menjadi hal yang lebih diperhatikan, baik dari segi produktifitas organisasi, maupun output aktifis-aktifis organisasi yang berkecimpung di dalamnya. Dalam hal ini, Masisir selain sebagai civitas akademia yang memiliki tugas ‘belajar’ juga sebagai pemegang mandate social dari masyarakatnya. Jadi idealnya, organisasi yang ada, haruslah lebih menunjang proses ‘belajar’ para anggotanya dan bisa membantu Masisir untuk menunaikan amanat bangsa dan negara.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sponsor by Rubber Gank